Dari FB

Dari FB
Eko Bambang Visianto
2 Juli 2017 pukul 21:02

Foto bocah lelaki yang sedang tidur ini aku ambil kemarin, tak lama setelah insiden aku memukulnya gara-gara ia menembak mata si adik dengan pistol mainan.

Sampai dengan umurnya yang memasuki 12 tahun, sepanjang yang aku ingat, aku tak pernah melakukan tindakan secara fisik sekeras itu padanya. Paling jauh memarahinya. Beberapa kali dengan cara yang agak keras dan ia selalu melakukan hal yang sama setelah kumarahi…. menutup pintu kamar dan tidur. Entahlah, aku tak tahu apakah ia juga menangis dalam tidurnya.

Berbeda dengan si adik yang bersifat periang, mudah bergaul, easy going dan membawa keramaian bagi sekitarnya, anakku yang sulung itu memang lebih pendiam, sensitif, tertutup, perasa dan sedikit pemurung. Yang satu extrovert dan yang satunya introvert.

Seperti ungkapan dalam bahasa Jawa yang mengatakan: anak pitik sak petarangan mesti ora ono sing podho. Kurang lebih artinya, anak ayam sekalipun dari induk yang sama tetap akan berbeda (satu dan lainnya).

Aku percaya sepenuhnya pada teori yang menjelaskan bahwa pengalaman dan trauma masa lalu bisa membawa pengaruh terhadap watak, sifat dan perilaku seseorang di masa depannya. Aku melihatnya sendiri kebenaran teori itu pada anak-anakku. Pada Arya dan Lintang yang mengalami masa bayi dan balita yang jauh berbeda.

Lintang itu melewati masa bayi dan balita dalam situasi keluarga yang relatif ideal. Kedua orang tuanya sudah lebih matang secara psikologis dan emosional. Kondisi ekonomi yang lebih mapan. Kami sudah memiliki rumah sendiri. Anak kedua kami itu lebih terawat dan diperhatikan karena kami sudah mampu menggaji 2 orang asisten rumah tangga.

Bundanya pun meski sedang menempuh S-2 di Undip Semarang, selalu berusaha untuk bersama bocah itu sejak pertama kali ditinggal saat berusia 1,5 tahun hingga selesai kuliahnya sekitar 3 tahun kemudian. Selama itu ia selalu pulang ke Bondowoso di hari Sabtu pagi dan balik ke Semarang pada hari Minggu malam. Begitu terus-menerus setiap minggu selama 3 tahun tanpa putus.

Memang berat, melelahkan dan juga mahal. Namun itu ia lakukan karena tak ingin Lintang mengalami nasib yang sama dengan kakaknya.

Masa balita Arya tidaklah sebaik Lintang. Ia lahir dalam kondisi keluarga sebagaimana persoalan klasik yang dihadapi oleh keluarga yang memulai segalanya nyaris dari nol. Kami masih belum punya rumah, masih tinggal di kamar kos. Dalam asuhan orang tua yang masih labil psikologis dan emosinya, kemampuan finansial yang pas-pasan untuk tak mengatakan minus. Saking kecilnya penghasilanku dan istri sampai-sampai kami harus sering makan nasi bungkus. Jika ada lagu dangdut berjudul ‘Sepiring Berdua’, maka aku dan bundanya Arya harus makan sebungkus berdua…. itu benar-benar secara harfiah. Agar lebih kenyang, kami menambahkan beberapa potong gorengan sebagai lauk.

Kami harus irit sedemikian rupa karena gaji yang kami peroleh lebih baik dibelikan susu untuk Arya yang sejak bayi memang tidak minum ASI.

Seakan itu semua belum cukup, ketika usia Arya menginjak 9 bulan, bundanya mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi D-IV Kebidanan di UNS Surakarta. Sebuah pilihan yang teramat sulit namun akulah yang mendorong agar beasiswa itu diambil. Salah satunya karena alasan demi perbaikan ekonomi… agar kami tak selamanya hidup pas-pasan.

Dan itu ada konsekuensinya.

Karena tentu saja tak sanggup mengurusi seorang bayi sendirian, aku terpaksa menitipkan Arya kecil di rumah orang tuaku di Jember, menjadikannya seorang anak “yatim piatu”. Ayahnya di Bondowoso, bundanya di Solo. Itu berlangsung sekian lama hingga suatu hari ibuku menceritakan suatu hal sambil menangis.

Kata beliau, setiap sore bocah itu selalu minta dimandikan lebih awal. Meminta dipakaikan baju bagus dan juga sepatu.
“Kalau ayah datang mau jalan-jalan.” Katanya.

Namun hingga jauh malam ternyata aku tak kunjung datang untuk mengajaknya pergi jalan-jalan. Itu yang kemudian membuat wajahnya murung dan bahkan sampai tak berbicara hingga keesokan paginya. Lalu ia akan pergi tidur dengan baju yang sama tanpa melepas sepatu seakan-akan aku akan mengajaknya pergi jalan-jalan di dalam mimpinya.

Itu terjadi hampir setiap hari. Jika sore tiba anak itu tak pernah lelah menungguku pulang di teras rumah neneknya.

Demi mendengar cerita ibuku, sejak itu, sesibuk apapun aku atau selarut apapun pekerjaanku selesai, mau hujan deras atau penat tubuhku, aku akan tetap memacu motor menempuh jarak 30 kilometer dari Bodowoso ke Jember. Setiap hari.

Itu agar aku dapat menghapus murung di wajah anak pertamaku itu.

Aku mungkin belum terlambat melakukannya, namun sepertinya kesedihan dan kesepian sudah terlanjur membekas di hatinya.

Mungkin itulah yang membuatnya punya sifat seperti sekarang ini.

======

Sebenarnya, kejadian Arya menembak mata Lintang itu adalah murni musibah. Si kakak menakut-nakuti adiknya karena tahu bahwa pistol mainan itu rusak, tak bisa ditembakkan. Siapa menyangka setelah pelatuknya ditekan, sebutir peluru plastik melesat dari moncong mainan rusak itu.

Beruntung karena rusak, lontarannya tak sekuat biasanya. Lintang memang menjerit kesakitan kemudian menangis keras…. namun tak ada akibat yang fatal pada matanya.

Tapi aku sudah terlanjur memukul Arya sekeras itu sambil kemudian mencari apologi pembenaran bahwa semua ayah akan melakukan hal yang sama sepertiku.

Nampaknya aku harus lebih banyak belajar bagaiana menjadi orang tua yang baik. Dan sepertinya aku justru harus belajar pada anak-anakku sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: