Gaya Hidup

Teko FB rek

Dulu waktu gaji 1.2jt an. Hp cukup Nokia 3310, yg penting bisa kring. Motor bebek Honda Astrea sudah hebat bisa nganter kemana mana. Meski gontrak dirumah petak 300rb perbulan serasa surga dunia. Istri rajin masak dirumah, kalo pulang sayur sop dan kopi tubruk dah siap dimeja.

Hidup tetap berjalan dan tetap happy meski sederhana.

Setahun kemudian gaji sudah 5jt an. Istri minta hp juga biar tik tok lebih enak, kalo ada apa gampang telpon. Honda astrea mesti dijual karna kurang keren ganti mega pro, ngangsur 500rb perbulan gapapa biar trendi dikit. Ngontrak mesti pindah kerumah yang bulanan bujet 700rb alih alih perabot mulai banyak gak muat kalo rumah petakan. Istri dah mulai malas masak karna KFC dan Mc Donal lebih enak dan praktis.

Hidup tetap berjalan, happy dan mulai timbul angan angan pingin ini pingin itu kalo gaji papa naik lagi.

Lima tahun kemudian gaji dah 8jt an. Hp jadul mesti diganti dgn yg touchscreen, nokia melayang ganti sony ericson keluaran terbaru Experia. Mega pro gak cocok lagi wajib ganti Ninja biar ngacir, ngutang gak apa apa kan gaji naek terus. Rumah dah pindah di cluster meski KPR 20 th perbulan 1.8jt.

Pola makan dan ngikut artis wisata kuliner,,,KFC gak kelas, sekarang minimal solaria, steak 21, kopi TM yg menu nya aneh aneh. Ada chiken mozarela, chiken cordonblue ada juga ikan asin keju ha ha ha

Hidup terus berjalan, happy tapi agak nyut nyutan bayar hutang,,,dulu yg gak pernah ribut ma istri sekarang dah mulai cek cok urusan ngatur duit. Dah mulai punya visi hidup sebagai orang kaya baru,,,,,jiahhh

Sepuluh tahun kemudian gaji 15jt. Di garasi udah ada XENIA … sstttt kabarnya utang di Lesing 3,1jt per bln x 4th, mesti istri keberatan tapi kata papa “gak pa pa ma, papa butuh challenge/tantangan yg lebih biar semangat kerja” cie cie …

Hmmm dompet mama sekarang tebal isinya mandiri credit card, BNI credit card, BCA credit card dan kartu pegadaian,,,, heeeee…

Ternyata makin tinggi gaji kita makin banyak yg kita mau.

Ternyata uang bisa merubah segalanya.

Ternyata berapapun uang yang kita punya gak akan pernah mampu mencukupi nafsu duniawi.

Padahal meski uang kita banyak, pilihan untuk dikendalikan atau mengendalikan uang tetap ada pada diri kita.

Padahal kita bisa tetap punya penghasilan tinggi namun tetap sederhana.

Padahal kita masih bisa tetap tercukupi meski dengan gadget yg sederhana sekalipun.

Padahal kita juga tahu bahwa apapun yag kita makan produk yg dikeluarkan tidak akan pernah berubah dan pasti terbuang di lubang toilet.

Jangan malu hidup sederhana karena sederhana itu sikap hidup BUKAN pelit.

Jangan malu makan masakan istri karena lebih sehat, bersih dan bergizi.

Jangan malu tidak punya kartu kredit. Karna pengguna kartu kredit kebanyakan dipakai karna gak punya uang cash.

Jangan diperbudak oleh trend, hp, motor dan mobil jika engkau turuti gak akan pernah habis engkau beli…..

Ingat,,,!! berlebih lebihan itu temannya setan

INGAT … Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk hidup sederhana dan berbagi. Jadi biasakanlah untuk membagi kebahagian yang engkau peroleh dengan keluarga dan tetanggamu.

Dan selalulah engkau ingat Jika kita pandai bersyukur maka Tuhan akan menambah berkat yang engkau peroleh….

Saat berpulang ke sisiNYA…tidak ada apapun yg terbawa…sedang catatan harta kekayaan hanya akan jadi pertanyaan akhirmu dari mana kau dapatkan dan untuk apa kau gunakan…

Jangan Sinis Dengan Fatwa MUI

Nyir Nyirnya Tere Liye

Dulu, waktu saya masih muda (sekarang sih masih muda juga), saya suka nyinyir dengan Majelis Ulama Indonesia. Usia saya waktu itu berbilang mahasiswa, baru lulus. Sy nyinyir sekali setiap MUI merilis fatwa. Hingga pada suatu hari, saking nyinyirnya, ada teman yang menegur (karena dia mungkin sudah tidak tahan lihat sy nyinyir di mana2), “Bro, jangan2, kitalah yang ilmunya dangkal. Bukan MUI-nya yang lebay. Tapi kitalah yg tidak pernah belajar agama sendiri.”

Muka saya langsung merah padam, tidak terima. Ini teman ngajak bertengkar. Enak saja dia bilang ilmu sy dangkal. Tapi sebelum sy ngamuk, teman sy lebih dulu bilang dengan lembut, “Jangan marah, bro. Mending pegang kertas dan pulpen gw, nih. Mari kita daftar hal2 berikut ini. Kalau sudah didaftar, nanti boleh marah2.” Baik. Karena dia ini teman baik saya, maka saya nurut, ambil pulpen dan kertasnya.

“Pertama, kapan terakhir kali kita baca Al Qur’an lengkap dengan terjemahan dan tafsirnya?” Saya bengong. “Tulis saja, bro. Kapan?” Saya menelan ludah. Berusaha mengingat2. “Kedua, kapan terakhir kali kita baca kitab hadist, sahih bukhari, sahih muslim, dibaca satu persatu, dipelajari secara seksama?” Saya benar2 terdiam. “Ketiga, kapan terakhir kita duduk di kajian ilmu yg diisi guru2 agama? Ayo, bro ditulis saja, kapan terakhir kali?”

Saya benar2 kena skak-mat. Termangu menatap kertas di atas meja.

“Ayo bro, ditulis. Kapan? Apakah kita tiap hari, tiap minggu telah melakukannya? Apakah baru tadi pagi kita baca tafsir Al Qur’an? Baru tadi malam, baca kitab2 karangan Imam Ghazali, dsbgnya?
Saya benar2 jadi malu.

“Nah, itulah kenapa jangan2 kita suka nyinyir dengan fatwa MUI, suka nyinyir dengan ulama. Karena kita merasa sudah paling berpengetahuan, paling paham tentang agama, tapi kenyataannya, kita cuma modal pandai bicara saja, pandai bersilat lidah. Belum lagi kalau ditanya: apakah kita sudah rajin shalat 5 waktu, apakah kita sudah rajin puasa senin-kamis, shalat tahajud, jangan2 kita malah tidak pernah. Bro, kita nyinyir dengan MUI, karena kita tidak suka saja, sentimen dgn mereka, dangkal pengetahuannya. Saat kita belajar betulan ilmu agama, barulah kita nyadar, kita sebenarnya justeru sentimen dengan Al Qur’an, dengan Nabi, dengan agama sendiri. Karena yg disampaikan oleh MUI itu, semua ada di kitab suci dan hadist.”

Demikianlah kisah masa lalu itu. Tidak perlu serius bacanya, anggap saja fiksi masa lalu Tere Liye. Fahimna. Pakai F, bukan pakai P.
(From dakwahmedia.net)

http://www.dakwahmedia.net/…/ternyata-tere-liye-dulu-sering…

PP



Ghibah Yang Diperbolehkan

Menurut imam Nawawi rahimahullah ada 6 ghibah yg diperbolehkan :
1- Mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzalimiku.”

2- Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.”

3- Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan.”

4- Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.

5- Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya.

6- Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. (Syarh Shahih Muslim, 16: 124-125)

Awas Media Manipulator!

Sekarang di sektor komunikasi, khususnya media online, terdapat orang2 bayaran (professional communicator) yang kerjaannya membuat berita dengan memalsukan fakta dan meme2 pendukung. Mereka dibayar untuk memproduksi pesan supaya mendistorsi dan memanipulasi informasi yg ada di masyarakat agar menciptakan opini publik bahkan gerakan politik sesuai pesanan aktor politik yg berkepentingan di belakang layar. Bahkan ditengarai dana asingpun banyak mengalir utk menciptakan keadaan tertentu sesuai kepentingan mereka.

Fakta2 palsu pesanan politik itu kemudian diberitakan serentak dan terus menerus di beberapa media online abal abal jaringan mereka, kemudian dishare oleh para buzzer yg sudah disiapkan sbg pasukan siber.

Di AMerika Serikat komunikator profesional dibayar untuk bikin media abal2 di internet untuk dishare dan dibenarkan oleh teman2 buzzernya sudah cukup lama. Ryan Holiday menulis pengakuannya dlm buku “Trust me I am lying, The confession of an media manipulator” (2012).

Pengalaman Ryan inilah yg kemudian dicontoh dan dikembangkan di Indonesia. Sekarang media dan akun abal2 jadi marak, membiaskan informasi di media sosial.

Di masyarakat kita berita palsu yg sensasional, beserta meme buatan itu justru dianggap menarik dan disukai. Banyak warga masyarakat tdk peduli asal, sumber, kualitas apalagi kebenaran informasi yg mereka terima. Mereka yg punya sikap tdk kritis bahkan gemar ikut menyebarkan dan menganggap info2 palsu itu A1. Sehingga informasi2 buruk yg tdk benar tersebut akan menjadi words of mouth yg laris disebarkan.

Terjadilah Ten Ninety Communication, komunikasi 10 : 90. Dimana hasil penyebaran komunikasi itu, justru 90% dilakukan suka rela oleh masyarakat yg suka pd informasi palsu itu. Sedang pelaku komunikasi politik yg sesungguhnya hanya melakukan 10% saja. Tapi hasilnya bisa menjadi kekuatan besar karena didukung “ketidaktahuan” masyarakat yg ikut menyebarkannya. Lewat mass self communication, informasi palsu itu tersebar, bahkan juga dikonfirmasi atau diperkuat oleh media2 abal abal lain yg memiliki misi senada.

Hasilnya banyak informasi palsu dianggap sebagai kebenaran oleh publik. Saat informasi itu makin banyak dishare dan dibahas, maka orang2 yg tdk sependapat, atau kritis pd kasus2 cenderung diam, krn menghindari “keributan”. Lama2 suara yg membenarkan informasi palsu tersebut bisa mendominasi media sosial. Karena mereka yg tdk setuju cenderung makin diam (silent). Mereka khawatir sdg menghadapi “suara mayoritas” (padahal tdk, itu hanya persepsi). Disitulah kemudian informasi palsu tersebut, tak hanya dianggap sbg suara mayoritas, tp juga menjadi nilai2 yg meresap dan mempengaruhi sikap politik.

Itulah kekuatan propaganda komunikasi lewat media sosial yg menciptakan Spiral of Silence. Kurban2nya tdk sadar krn bnyk yg isi propaganda tersebut sesuai dg predisposisi atau kecenderungan sikap mereka sebelum diterpa informasi palsu itu.

Idealnya, memang harus ada counter propaganda yg mengungkap fakta2. Sayangnya gerakan kebaikan sering “kalah” dengan yg negatif. Maka salah satu cara menangkalnya adalah, dengan tidak membiarkan kita menjadi korban propaganda politik yg akan memporak porandakan negeri ini. Saatnya setiap memperoleh informasi negatif, dicheck dulu siapa sumbernya? Terpercaya atau tidak? Kemudian dicheck isinya logis apa tdk? Apa isinya berbasis suudzon atau khusnudzon? Kalau justru mudzarotnya lbh banyak, sebaiknya tdk usah kita ikut2 ngeshare informasi yg isi dan sumbernya tdk jelas. Kecuali kita sendiri mmg bagian dari orang2 yg mengharapkan kekacuan dan kehancuran negeri ini. Tp apakah niat kita seburuk itu? Saya yakin tidak.

Henry Subiakto
Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga

26 November 2016

Kantor Atau Masjid?

Copas

KENAPA TIDAK DISHOLATKAN DI KANTOR..?”

Assalaamu’alaikum

Sebelum subuh sudah berangkat ke kantor…,
Setelah isya baru kembali dari kantor…
Dzuhur… terjepit waktu istirahat kantor…,
Ashar… pekerjaan banyak sekali di kantor…,
Maghrib.. tanggung dijalan, perjalanan pulang dari kantor…,
Isya… masih capek, baru pulang dari kantor…,

Malam-malam ditelpon untuk datang ke kantor…. malah segera berangkat..!!

Disaat pensiun…
Hanya memiliki rumah sederhana.. bukan istana…
Mobil tua yg perawatannyapun mahal…
Uang pesangon yg sudah habis atau uang pensiun hanya cukup untuk makan…

Walaupun bisa memiliki rumah lebih mewah, tubuh lemah dan sakit sudah tidak bisa menikmati indahnya rumah..
Hari-hari hanya merasakan rasa sakit…

Puluhan tahun kerja banting tulang…
Setelah rumah, mobil dimiliki… hartapun habis untuk berobat..

Berat untuk sholat karena semua sendi sudah tidak kuat…
Ditambah masa muda sibuk kerja hingga tak terbiasa sholat…

Mati-matian membela kantor atas perintah atasan… Sampai-sampai malas ke masjid…

Tapi disaat tua.., lemah.., dan wafat…
Jasadpun meminta disholatkan di masjid..
dengan Ustadz sebagai Imamnya.., bukan anaknya yang menjadi Imam…

Mati-matian membela kantor…
Tak seorangpun mati disholatkan dikantor dengan atasannya sebagai Imam sholat jenazah…
Tidak pernah pernah terjadi…

Jadi…
Masihkah kita mengutamakan KANTOR daripada MASJID..?

Padahal..
MASJID adalah tempat terakhir kita… DISHOLATKAN.

Copas 2

Seusai Sholat Shubuh aku dikejutkan oleh Bunda “Ari, Nenek kamu masuk Rumah Sakit. Bunda harus datang melihatnya“

Kulihat wajah bunda nampak sedih. Tentu aku harus mendampingi bunda, karena tempat tinggal nenek tidak di Jakarta tapi Sumatera. Sementara aku hampir tidak mungkin meninggalkan kesibukanku di Jakata, Apalagi mitra bisnisku dari luar negeri sedang ada di Jakarta untuk menjajaki kerjasama pembelian produksi pabrikku. kulihat Bunda sedang sibuk mengemas pakaiannya di kamar. “Bunda, apa enggak bisa berangkatnya lusa aja” kataku dengan lembut.

“Bunda enggak mau ganggu kamu, bunda bisa pergi sendiri kok, antar saja Bunda ke Bandara ya” kata bunda sambil memasukan pakaiannya kedalam koper.

“Baru minggu lalu bunda ke Dokter dan sekarang masih harus istirahat“ Kataku dengan tetap lembut sambil memegang tas kopernya untuk mencoba menahannya pergi. “Lusa aja ya, aku temanin“

“Tidak !!! “ mata Bunda melotot. Kalau sudah begini aku hanya bisa menghela napas panjang. Sepeti biasanya aku harus mengalah untuk mengikuti kata Bunda. Istriku juga punya sifat sama denganku untuk mengikuti kehendak Bunda“

“Baiklah, kita pergi sam-sama”. Seperti biasanya pula Bunda tersenyum cerah, dia memelukku.

Didalam pesawat aku menuju kota kelahiran ayahku, lamunanku terbang kemasa kanak kanaku. ………………..

Dalam usia 5 tahun, aku sudah yatim. Karena ayah meninggal akibat sakit.

Menurut cerita Bunda, ketika Ayah meninggal status ayah masih mahasiswa di Yogya. Bunda bukanlah dari keluarga kaya.
Bunda juga seorang Yatim, beda dengan Ayah yang terlahir dari keluarga Pajabat tinggi di Sumatera.

Sehingga walau Ayah berstatus mahasiswa namun kiriman uang dari orang tuanya masih cukup untuk menanggung hidupnya berkeluarga. Ayah sengaja merahasiakan perkawinan itu kepada keluarga besarnya. Namun dua tahun setelah ayah meninggal, bunda datang ke keluarga ayah sambil membawaku.
Aku masih ingat ketika itu usiaku 7 tahun.

Aku tidak begitu ingat persis bagaimana suasana ketika Bunda memperkenalkan dirinya sebagai menantu dan aku sebagai cucu kepada kakek dan nenekku.

Yang aku tahu setiap tahun bunda selalu membawaku kerumah kakek dan nenek. Setiap tahun, setiap lebaran, Bunda mengajakku pergi kerumah kakek dan nenek. Dengan berlelah lelah naik bus melewati pulau Jawa dan Sumatera untuk sampai.

Tak pernah aku antusias datang ke rumah kekek dan nenek. Sebagai anak kecil aku tahu bahwa kakek nenek tidak pernah hangat dengan kehadiranku dan Bunda.

Beda sekali dengan perlakuannya kepada saudara sepupuku yang lain, seperti Adi, Rini, Bobi, Anto, Dedi. Setiap lebaran, kulihat para sepupuku datang dari Jakarta, Bandung, Surabaya dengan pakaian bagus.

Beda sekali denganku. Bila semua Istri Om sibuk berdandan di kamar atau bermalasan di taman belakang rumah kakek yang luas itu, Bunda malah sibuk di dapur memasak , seperti pembantu.

Ayahku adalah anak tertua diantara empat bersaudara. Semua saudara ayah laki laki. Tidak ada perempuan.

Istri Om semua memang cantik-cantik. Menurut yang kutahu dari nenek, yang selalu diulang-ulang dihadapan Bunda, bahwa semua Istri Om dari kalangan keluarga terhormat. Seakan merendahkan keberadaan Bunda. Tapi kulihat Bunda tak pernah tersinggung.

Selama membesarkan ku, Bunda tak pernah mendapat bantuan satu senpun dari keluarga Ayah. Juga Bunda tidak pernah memohon bantuan dari mereka.

Bunda bekerja keras di perusahaan Swasta sebagai tenaga administrasi. Bundapun tak pernah terpikir untuk menikah kembali. Ketika aku sudah remaja, aku sudah bisa beralasan bila Bunda mengajakku lebaran di rumah kakek.

“aku males ke rumah kakek dan nenek. Mereka enggak sayang sama aku. Kenapa kita harus ke rumah mereka?“

Demikian alasanku. Tapi Bunda dengan segala sifatnya yang keras memaksaku untuk ikut. akupun tak berdaya.

Ketika aku tamat SMU, aku tidak kuliah. Aku memilih bekerja di bengkel.

“Saya tak ada uang untuk mengirim Ari ke universtas, Yah”. Demikian kata ibu kepada kakek ketika menanyakan mengapa aku tidak kuliah.

Kakek dan nenek nampak tersenyum sinis ketika mengetahui keadaanku.

Tahun-tahun berikutnya ketika lebaran. Kakek dengan kebanggaannya bercerita tetang sepupuku yang berangkat ke luar negeri untuk kuliah. Ada juga yang masuk perguruan tinggi swasta bergengsi di Jakarta. Aku maklum karena Om ku semua mempunyai posisi sebagai Pejabat dan ada juga yang jadi pengusaha.

Aku dan Bunda hanya diam mendengar cerita itu. Tapi, tak pernah mengurangi niat Bunda untuk datang ke rumah kakek dan nenek. Dan aku semakin bosan dengan sikap keluarga ayahku.

Yang pasti bi idznillaah, izin Allaah SWT ditambah kerja kerasku, aku bisa menanggung Bunda dan Bunda tak perlu lagi berkerja keras.

Berjalannya waktu, yang tadinya aku sebagai pekerja bengkel, akupun sudah bisa mandiri dengan membuka usaha bengkel sendiri.

Lambat laun, aku mendapat mitra untuk membuat komponen bodi kendaraan sebagai pemasok pabrikan otomotif. Usaha ini ku geluti dengan kerja keras siang malam dan akhirnya berkembang. Ini semua tidak bisa dilepaskan peran Bunda yang tak henti mendoa’ kan ku.

Akupun dapat hidup mapan. Namun, kewajiban setiap lebaran datang berkunjung ke rumah kakek nenek tetap saja dilakukan oleh Bunda dan aku harus ikut.

Tapi belakangan keluarga yang berkumpul di rumah kakek dan nenek tidak lagi utuh. Yang lain hanya menelphone mengucapkan selamat lebaran kepada kakek dan nenek. Sepupuku pun tak semua datang. Mereka bersikap sama dengan orang tuanya, mengucapkan selamat lebaran via SMS, telpon atau WA. Tapi kakek dan nenek tetap bangga dengan mereka.

Aku tak pernah cerita tentang keadaanku karena kakek dan nenek tak pernah bertanya tentangku. Walaupun mereka tahu aku dan Bunda tidak lagi datang dengan bus tapi menggunakan pesawat terbang.
………

Tak terasa roda pesawat sudah menyentuh landasan. Kulihat Bunda tersentak dari tidur lelapnya. Dia melirik kearahku dan entah kenapa dia menciumku keningku. ”Ada apa Bunda ?“ tanyaku dengan tesenyum

“Bunda ingat akan ayahmu”. Bunda nampak berlinang air mata. Aku hanya diam “Ayahmu pria yang sangat baik. Sangat baik”. Dia pria yang Sholeh. Ayahmu berencana bila dia selesai kuliah dan dapat pekerjaan maka dia akan membawa Bunda dan kamu ke keluarga besarnya.

Bunda tahu kok, Ayahmu dalam posisi lemah ketika melamar Bunda. Di samping itu dia sadar karena pilihannya kepada bunda membuat dia berbeda dengan Ayahnya.

Ayahmu mencintai bunda karena dia lebih mencintai Allaah dari apapun” Sambung Bunda.

“Maksud Bunda apa?”

“Ayahmu memilih Bunda karena Agama”. Dia tidak melihat Bunda karena kecantikan, karena keturunan orang kaya, karena apa-apa. Dihadapan Ayahmu, Bunda adalah muslimah yang baik, yang miskin. Dan itu pasti akan ditentang habis oleh keluarganya”

Air mata Bunda berlinang dan akhirnya air mata itu jatuh membasahi pipinya“

“kamu adalah putra ayahmu”. Anak yang berbakti, Sholeh dan pekerja keras. “Benarlah kalau niat baik karena Allaah maka yang akan datang juga kebaikan“

Aku terdiam. Ada yang mengganjal dalam pikiranku. Ini momen yang tepat untuk bertanya …

“Kenapa Bunda selalu menaruh hormat kepada kakek dan nenek.
Padahal mereka sangat acuh dan tidak peduli dengan kita”

Bunda menatapku dengan tersenyum

“Ketika Ayahmu pulang ke Sumatera dalam keadaan sakit, dia berpesan kepada Bunda , bila dia meninggal agar Bunda menjalin silahturahim dengan keluarganya dan mendidik mu untuk dekat kepada kedua orang tuanya”

Bunda terdiam sebentar sambil mengusap airmatanya. “Kamu tahu, setelah Ayahmu meninggal, butuh dua tahun Bunda untuk mengambil keputusan untuk bertemu dengan kakek dan nenekmu.

Walau karena itu tidak ada rasa hormat kepada Bunda, dan Bunda juga menyaksikan betapa kamu tidak diperlakukan sama seperti cucu yang lain, tapi Bunda ingat kata kata Ayahmu
“Cintailah sesuatu karena karena Allah. Tak penting rasa hormat dan imbalan dari manusia,
ya kan, anakku”

“Ya, Bunda” Terlontar begitu saja dari mulutku.

Entah kenapa kedatangan ku bersama Bunda kali ini disambut dengan air mata berlinang oleh kakek.

Dia peluk aku ketika sampai di kamar nenek dirawat.
Yang datang menjenguk hanya “aku dan Ibu”. Sementara Om dan sepupuku tidak ada yang datang. Kulihat nenek dalam keadaan tertidur.

Dari kakek kutahu bahwa nenek terkena stroke tapi keadaanya cepat tertolong. Mungkin setelah itu nenek akan lumpuh. Kakek mengajakku keluar dari ruangan. Kami bicara di taman Rumah sakit.

“Dua tahun lalu Om mu yang pejabat di Jakarta, terkena kasus Korupsi. Dia dalam pemeriksaan oleh aparat yang berwajib”.

Sebelumnya Om mu yang di Surabaya perusahaannya disita oleh Bank karena bankrut.

Om kamu yang di Bandung bercerai dengan istrinya karena soal perselingkuhan dan akhirnya terkena PHK sebagai PNS.

Semua anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang liar. Kuliah tidak selesai, dan terjebak dalam pergaulan bebas.

“aku terkejut, karena baru kali ini aku tahu” Mungkin karena hubunganku dengan keluarga ayahku tidak begitu dekat maka tak banyak kutahu soal mereka.

“Kakek tahu bahwa nenekmu punya penyakit darah tinggi dan jantung”

Makanya kakek berusaha menyimpan rapat rahasia tentang Om kamu yang tersangkut kasus karupsi.

“Tapi kemarin, ada yang memberi tahu bahwa Om kamu sudah di vonis penjara enam tahun atas tindakan korupsinya. Seketika itu pula nenekmu jatuh pingsan…”

Aku hanya diam untuk menjadi pendengar yang baik.

“Ari, kami tahu bahwa selama ini perlakuan kami kepada kamu dan ibu mu kurang baik”

Bahkan kami biarkan ibu mu menderita membesarkan kamu, membesarkan anak dari putra sulung kami, cucu kami.

Kami menyesal karena sikap kami selama ini. Belakangan ini, nenekmu selalu menyebut nama kamu……setiap dia menyebut namamu, seketika itu juga dia menangis.

Kini dimasa tua kami, kami resah karena tak tahu siapa yang akan mengurus kami.

“Nenekmu mungkin setelah ini akan lumpuh. Kakek sudah uzur dan lemah…”

Ku genggam tangan kakek.

“Aku yang akan merawat kakek dan nenek” Izinkan aku untuk membawa kakek dan nenek ke Jakarta, tinggal bersamaku. “Beri kesempatan aku untuk berbakti kepada kakek dan nenek, ya kek“

Seketika itu juga kakek memelukku erat.

Terasa pundakku basah, “aku tahu kakek menangis” Harta yang ada jual saja lah kek. Untuk bantu Om dan Adik-adiknya.

“Dalam situasi ini tentu mereka sangat membutuhkannya. Dan sisanya kakek sedekahkan untuk Panti asuhan agar kakek punya bekal ke akhirat, setuju kan kek.” kataku.

Kakek semakin erat pelukannya. “Maha suci Allaah SWT, sifatmu tak jauh beda dengan Ayahmu, yang begitu bijak menyikapi kami”

Bertahun-tahun aku di didik oleh Bunda untuk memahami makna cinta.

“Bahwa Cinta adalah tindakan memberi karena Allah”, bukan mengharap balasan dari manusia.

akupun harus memahami hakikat cinta dalam kehidupan ini, termasuk menggantikan posisi ayahku untuk berbakti kepada kakek dan nenek, orangtua ayahku.
……

Bunda nampak bahagia sekali ketika melihatku mendorong kursi roda Nenek menuju tangga pesawat dengan di samping kakek yang berjalan sambil memegang lenganku. kami semua ke Jakarta.

………

Ya Allah, semoga kami meninggal dalam keadaan sebagai insan yang Engkau cintai, Husnul Khootimah dan mendapat Syafaa’at yang agung dari Baginda Yang Mulia Habiibunaa Rasuulillaah Muhammad SAW.
Aamiin….yra.⁠